White Alice merupakan proyek raksasa militer yang ambisius. Angkatan Udara AS dan Kanada melakukan serial pengupingan radar di Samudra Artika. Tapi mereka perlu menemukan cara untuk me-relay informasi di penjuru tanah air secara cepat, dan untuk itulah White Alice dibuat. Dimulai tahun 1955, Angkatan Udara dan Angkatan Darat membangun jaringan hubungan komunikasi yang menggunakan teknologi terbaru untuk menghubungkan satu sama lain. Transmisi telepon dan data-data yang lain dikirim via microwave, ditembakan ke udara, memantul di atmosfir (tidak perlu satelit), dan diterima di lokasi receiver. Proses ini disebut “Pemencaran Troposferik” yang masih memiliki banyak keunggulan dibanding teknologi lain.
Pertama,
memantulkan sinyal ke atmosfir , yang berarti perangkatnya tidak perlu area
yang terbuka/luas. Sehingga sangat berguna di dareah pegunungan seperti di
Alaska. Jaraklokasi-lokasi White Alice bisa terpisah sejauh 200 mil (320 km,
dari Jakarta sampai P. Belitung atau dari Jakarta sampai P. Nusa Kambangan).
Kedua, sinyalnya
juga mendukung multi telepon pada saat
yang bersamaan. Tidak hanya untuk telepon, White Alice juga bisa digunakan
untuk Video Call dan Chatting. Jarang ada sistem yang bisa begitu.
Dan yang paling
krusial buat militer adalah jaringannya yang aman (anti sadap). Sinyal yang
dipantulkan hanya bisa diterima tepat di titik lokasi yang ditentukan. Jadi
hampir mustahil informasinya bocor di tengah jalan.
Jaringan sejenis
menyebar di seluruh dunia. Amerikas Serikat bahkan menghubungkan Hawaii ke
Filipina lewat sistem penyebaran
Pasifik. Tapi sebelum program White Alice (1955) selesai, ada teknologi
baru lagi yang datang menggantikannya.
Tahun 1957, Soviet meluncurkan Sputnik. Satelit artifisial pertama di dunia.
Menariknya,
White Alice terus digunakan sampai akhir 1970an
untuk jaringan telepon sipil.Dan sampai sekarang, militer masih
menggunakan jaringan Pemencaran Troposferik di sana-sini
karena masih sangat aman. Contoh yang masih
menggunakan teknologi ini adalah militer Iran, karena sudah puluhan
tahun diembargo tidak boleh membeli pesawat terbang dan satelit, sehingga
mereka menggunkan White Alice sebagai media komunikasinya. Jika teknologi ini
dikembangkan, dan digunakan untuk kepentingan masyarakat, mungkin biaya
komunikasi akan jauh lebih murah.
0 komentar:
Posting Komentar